Sabtu, 24 September 2011

PERTOLONGAN PERTAMA KEGAWAT DARURATAN DALAM OBSTETRI DENGAN RETENSIO PLASENTA



A. Pengertian Retensio Plasenta
Retensio plasenta adalah tertahannya atau belum lahirnya plesenta hingga 30 menit setelah bayi lahir. Bila plasenta belum Lepas sama sekali tidak akan terjadi perdarahan, tapi bila sebagian plasenta sudah lepas akan terjadi perdarahan dan ini merupakan indikasi untuk segera mengeluarkannya.

B. Faktor Penyebab Retensio Plasenta
1. Plasenta belum lepas dari dari dinding rahim karena plasenta tertanam jauh atau penanaman plasenta yang abnormal, seperti :
• Plasenta akreta, penanaman plasenta lebih dalam menerobos desidua   sampai berhubungan dengan myometrium.
• Plasenta inkreta, penanaman plasenta sampai ke myometrium.
• Plasenta perkreta, penanaman sampai ke perimetrium
2. Plasenta sudah lepas tetapi belum keluar karena adanya lingkaran kontriksi pada bagian bawah rahim akibat kesalahan penanganan kala III sehingga menghalangi plasenta keluar, ini yang disebut plasenta inkarserata
3. Kelainan dari uterus sendiri, yaitu anomali dari uterus atau serviks, kelemahan dan tidak efektifnya kontraksi uterus, kontraksi yang tetanik dari uterus, serta pembentukan constriction ring.
4. Kelainan dari plasenta, misalnya plasenta letak rendah atau plasenta previa, implantasi di cornu dan adanya plasenta akreta.
5. Kesalahan manajemen kala tiga persalinan , seperti manipulasi dari uterus yang tidak perlu sebelum terjadinya pelepasan dari plasenta menyebabkan kontraksi yang tidak ritmik, pemberian uterotonik yang tidak tepat waktunya yang juga dapat menyebabkan serviks berkontraksi dan menahan plasenta serta pemberian anestesi terutama yang melemahkan kontraksi uterus.
C. Pertolongan Pertama oleh Bidan Pada Pasien Retensio Plasenta
1. Sikap umum bidan
a. Memperhatikan keadaan umum penderita.
o Apakah anemis
o Bagaimana jumlah perdarahannya
o Keadaan umum penderita : tekanan darah, nadi, dan suhu
o Keadaan fundus uteri : kontraksi dan tinggi fundus uteri.
b. Mengetahui keadaan plasenta.
• Apakah plasenta inkarserata
• Melakukan tes plasenta lepas : metode Kusnert, metode Klein, metode Strassman, metode Manuaba.
c. Memasang infuse dan memberikan cairan pengganti.

2. Sikap khusus bidan.
a. Retensio plasenta dengan perdarahan, Langsung melakukan plasenta manual 
b. Retensio plasenta tanpa perdarahan
• Setelah dapat memastikan keadaan umum penderita segera memasang infuse dan memberikan cairan. Sebelum dirujuk pasang infuse oksitosin 20 unit dalam 500 cc NS/RL dengan 40 tetesan permenit, bila perlu kombinasikan dengan misoprostol 400 mg rectal
• Merujuk penderita ke pusat dengan fasilitas cukup, untuk mendapatkan penanganan yang lebih baik
• Memberikan transfuse darah jika perlu
• Proteksi dengan antibiotika seperti ampisilin 2g IV/oral + metrodinazol Ig supositoria/oral.
• Mempersiapkan plasenta manual dengan legeartis dalam keadaan pengaruh narkosa.

3. Upaya preventif retensio plasenta oleh bidan.
a. Meningkatkan penerimaan keluarga berencana, sehingga memperkecil terjadi retensio plasenta.
b. Meningkatkan penerimaan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang terlatih.
c. Pada waktu melakukan pertolongan persalinan kala III tidak diperkenankan untuk melakukan masase dengan mempercepat persalinan plasenta. Masase yang idak tepat waktu dapat mengacaukan konraksi otot rahim dan menggangu pelepasan plasenta.

D. Standar Praktek Bidan Untuk Melakukan Manual Plasenta Dalam Menangani Retensio Plasenta
Bidan dibenarkan untuk melakukan manual plasenta dan menangani retensio plasenta seperti terdapat dalam Kepmenkes No.900/Menkes/SK/VII/2002 yaitu :
1. Pasal 16
(1) Pelayanan kebidanan kepada ibu meliputi :
a. penyuluhan dan konseling
b. pemeriksaan fisik
c. pelayanan antenatal pada kehamilan normal
d. pertolongan pada kehamilan abnormal yang mencakup ibu hamil dengan abortus iminens,hiperemesis gravidarum tingkat I, preeklamsi ringan dan anemi ringan
e. pertolongan persalinan normal
f. pertolongan persalinan abnormal, yang mencakup letak sungsang, partus macet kepala didasar panggul, ketuban pecah dini (KPD) tanpa infeksi, perdarahan post partum, laserasi jalan lahir, distosia karena inersia uteri primer, post term dan pre term
g. pelayanan ibu nifas normal
h. pelayanan ibu nifas abnormal yang mencakup retensio plasenta, renjatan dan infeksi ringan
i. pelayanan dan pengobatan pada kelainan ginekologi yang meliputi keputihan, perdarahan tidak teratur dan penundaan haid.
2. Pasal 18
Bidan dalam memberikan pelayanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 berwenang untuk :
a. memberikan imunisasi
b. memberikan suntikan pada penyulit kehamilan, persalinan dan nifas
c. mengeluarkan placenta secara manual
d. bimbingan senam hamil
e. pengeluaran sisa jaringan konsepsi
f. episiotomi
g. penjahitan luka episiotomi dan luka jalan lahir sampai tingkat II
h. amniotomi pada pembukaan serviks lebih dari 4 cm
i. pemberian infuse
j. pemberian suntikan intramuskuler uterotonika, antibiotika dan sedative
k. kompresi bimanual
l. versi ekstraksi gemelli pada kelahiran bayi kedua dan seterusnya
m. vacum ekstraksi dengan kepala bayi di dasar panggul
n. pengendalian anemia
o. meningkatkan pemeliharaan dan penggunaan air susu ibu
p. resusitasi pada bayi baru lahir dengan asfiksia
q. penanganan hipotermi
r. pemberian minum dengan sonde/ pipet
s. pemberian obat-obat terbatas, melalui lembaran permintaan obat sesuai dengan Formulir VI terlampir
t. pemberian surat keterangan kelahiran dan kematian.

E. Langkah – Langkah Manual Plasenta
1. Kaji ulang indikasi
2. Persetujuan medis
3. Pasang infuse
4. Berika sedative dan analgetika, misalnya petidin, diazepam IV
5. Beri antibiotic dosis tunggal ampisilin 2g IV ditambah metrodinazol 500 mg IV atau sefazolin Ig ditambah metrodinazol 500 mg IV
6. Pasang sarung tangan steril
7. Jepit tali pusat dan tegangkan sejajar lantai
8. Masukkan tangan secara obstetric dengan menelusuri bagian bawah tali pusat masuk kedalam kavum uteri, sementara itu tangan satu lagi menahan fundus uteri, sekaligus untuk mencegah inversion uteri
9. Dengan bagian lateral jari – jari tangan mencari insersi pinggir plasenta
10. Buka tangan obstetric menjadi seperti member salam, jari – jari dirapatkan
11. Tentukan implantasi plasenta, temukan tepi plasenta yang paling bawah
12. Gerakkan tangan kekiri dan kekanan sambil bergeser ke cranial sehingga semua permukaan maternal plasenta dapat dilepaskan
13. Pegang plasenta dan keluarkan tangan bersama plasenta
14. pindahkan tangan luar ke supra sinfisis saat plasenta dikeluarkan
15. Eksplorasi untuk memastikan tidak ada bagian plasenta yang masih melekat pada dinding uterus
16. Beri oksitosin 10 IU dalam 500 ml cairan IV (garam fisiologik atau ringer laktat) 60 tetes/menit dan masase uterus untuk merangsang kontraksi
17. Jika darah masih banyak berika ergometrin 0.2 mg
18. Periksa apakah plasenta lengkap, jika tidak lengkap lakukan eksplorasi kedalam kavum uteri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Tinggalkan Komentar Untuk Perbaikan Postingan Selanjutnya !

Facebook Twitter Fans Page
Gratis Berlangganan artikel B-digg via mail, join sekarang!