Selasa, 05 Maret 2013

Strruktur Jaringan Batang Tumbuhan Dikotil


BAB I
PENDAHULUAN
1.1.  Latar Belakang
Tumbuhan adalah tonggak dari sebagian besar ekosistem teresterial (daratan).Batang merupakan bagian tubuh tumbuhan yang amat penting, dan mengingat tempat dan kedudukan batang bagi tubuh tumbuhan, batang dapat disamakan dengan sumbu tubuh tumbuhan. Maka kami perlu mempelajarinya lebih mendalam untuk menambah pengetahuan kami dengan cara membuat makalah ini.

1.2. Rumusan masalah
Melihat latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalahnya adalah sebagai berikut:
1.         Bagaimana Fungsi Batang pada Tumbuhan
2.         Bagaimana Struktur Jaringan Batang Pada Tumbuhan
3.         Bagaimana Struktur Jaringan luar Batang Tumbuhan
4.         Bagaimana Struktur Jaringan Batang Tumbuhan Dikotil
5.         Bagaimana Struktur Jaringan Batang Tumbuhan Monokotil
6.         Bagaimana Pertumbuhan primer dan sekunder batang

1.3. Tujuan penulisan
Dari rumusan masalah diatas, maka tujuan penulisan makalah ini  adalah sebagai berikut:
1.         Untuk mengetahui Fungsi Batang pada Tumbuhan
2.         Untuk mengetahui Jaringan Batang Pada Tumbuhan
3.         Untuk mengetahui Struktur Jaringan luar Batang Tumbuhan
4.         Untuk mengetahui Struktur Jaringan Batang Tumbuhan Dikotil
5.         Untuk mengetahui Struktur Jaringan Batang Tumbuhan Monokotil
6.         Untuk mengetahui pertumbuhan primer dan sekunder
7.         Dan bagaimana membuat tabel perbandingan antara jaringan dikotil dan monokotil.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1.   Struktur , Jaringan , Jenis & Fungsi Batang Tumbuhan

Batang merupakan bagian sistem tunas pada tumbuhan. Letaknya berada di atas tanah. Organ ini dikategorikan sebagai penghasil alat-alat lateral, misalnya daun, tunas, dan bunga. Pada bagian batang terdapat buku (node) atau tempat daun melekat dan ruas (internode), yaitu bagian batang yang letaknya di antara buku-buku.
Morfologi dasar tumbuhan menunjukkan sejarah evolusinya sebagai organisme teresterial. Suatu tumbuhan darat harus menempati dua lingkungan yang sangat berbeda, yaitu tanah dan udara, pada waktu yang bersamaan dan harus mengambil sumberdaya dari keduanya.
Tanah menyediakan air dan mineral, udara merupakan sumber utama CO2, namun cahaya tidak bisa menembus jauh ke dalam tanah. Solusi evolusioner terhadap pemisahan  sumberdaya ini adalah diferensiasi tubuh tumbuhan menjadi dua sistem utama: sistem akar yang berada dibawah permukaan tanah dan sistem tunas yang ada di atas permukaan tanah yang terdiri dari batang, daun dan bunga.
Tidak satupun di antara kedua sistem ini yang dapat hidup tanpa ada sistem yang lain. Jika tumbuhan tidak mempunyai kloroplas dan hidup di kegelapan, maka akar akan kelaparan tanpa gula dan nutrien (zat hara) organik lainnya yang didatangkan dari jaringan fotosintetik sistem tunas. Sebaliknya, sistem tunas bergantung pada air dan mineral yang diserap dari tanah oleh akaar. Jaringan vaskuler (pembuluh), yaag kontinyu di seluruh tubuh tumbuhan, mengangkut zat antara akar dan tunas.
Kedua jenis jaringan vaskuler tersebut adalah xilem, yang mengirim air dan mineral yang terlarut ke atas dari akar ke tunas, dan floem, yang mengangkut makanan yang dibuat di daun yang sudah dewasa ke akar dan bagian-bagian tunas, seperti daun dan buah yang sedang berkembang.

Selain buku dan ruas, pada batang terdapat suatu tunas. Tunas yang terdapat pada sudut di antara daun dan batang dinamakan tunas aksiler. Tunas ini berpeluang menjadi cabang. Adapun bagian ujung batang terdapat tunas terminal. Perhatikan Gambar 1.
Gambar 1 Bagian-bagian batang

2.2.   Fungsi Batang pada Tumbuhan
Secara umum, batang mempunyai beberapa fungsi berikut :
1)      Sebagai tempat pengangkutan air dan unsur hara dari akar.
2)      Memperluas tajuk tumbuhan untuk efisiensi penangkapan cahaya matahari.
3)      Tempat tumbuhnya organ-organ generatif.
4)      Efisiensi penyerbukan dan membantu pemencaran benih.
5)      Pada tumbuhan tertentu, sebagai tempat penyimpanan makanan cadangan, misalnya berupa umbi atau rimpang.

2.3.  Struktur Jaringan Batang Pada Tumbuhan
Secara umum struktur jaringan penyusun batang tumbuhan terdiri atas tiga bagian, yaitu epidermis, korteks, dan stele. Adapun struktur jaringan penyusun batang (dari luar ke dalam) beserta ciri-cirinya dijelaskan dalam  uraian berikut :

1)      Epidermis batang Tumbuhan

a.       Tersusun oleh selapis sel, tersusun rapat, tanpa ruang antarsel, dinding luar terdapat kutikula yang berfungsi untuk melindungi batang dari kehilangan air yang terlalu besar. Pada tumbuhan kayu yang telah tua terdapat kambium gabus yang menggantikan fungsi jaringan primer.
b.      Aktivitas kambium gabus adalah melakukan pertukaran gas melalui celah yang disebut lentisel. Derivat epidermis antara lain sel silika dan sel gabus, misalnya pada batang tanaman tebu.

2)      Korteks batang Tumbuhan

a.       Tersusun oleh beberapa lapis sel parenkim yang tidak teratur dan berdinding tipis, banyak ruang antarsel.
b.      Terdapat kolenkim dan sklerenkim yang berfungsi sebagai penyokong dan penguat tubuh.
c.       Sel-sel korteks sebelah dalam yang mengandung amilum disebut floeterma (sarung tepung ).

3)      Stele (silinder pusat) batang Tumbuhan

a.       Lapisan terluar disebut perisikel.
b.      Di dalamnya terdapat sel parenkim dan berkas pengangkut.



 Gambar 2 Jaringan pembuluh pada tanaman (a) monokotil dan (b) dikotil.



2.4.   Struktur Jaringan luar Batang Tumbuhan

Perbedaan struktur luar pada tumbuhan tingkat tinggi dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu batang tumbuhan herba dan batang tumbuhan berkayu. Tumbuhan herba dan tumbuhan berkayu memiliki daun-daun di sepanjang batangnya.

1) Batang tumbuhan herba

Batang tumbuhan herba biasanya, berwarna hijau, jaringan kayu sedikit atau tidak ada, ukuran batang kecil, dan umumnya relatif pendek. Bagian luar batang terdiri dari epidermis yang tipis dan tidak mengandung gabus. Pada epidermis terdapat stomata sehingga jaringan di dalamnya dapat mengambil oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida. Contoh: pacar air, jagung, bayam, kacang, dan bunga matahari.

2) Batang tumbuhan kayu

Batang tumbuhan berkayu umumnya keras dan umurnya relatif panjang. Permukaan batang keras dan di bagian tertentu terdapat lentisel. Lentisel berhubungan dengan bagian dalam batang dan berfungsi sebagai tempat pertukaran gas di batang. Pada tumbuhan berkayu yang masih muda terdapat klorofil, sehingga dapat melakukan fotosintesis. Akan tetapi, jika sudah terbentuk lapisan gabus kemampuan fotosintesis menjadi hilang. Lapisan gabus terbentuk oleh kambium gabus. Adanya aktivitas kambium menyebabkan rusaknya jaringan yang terdapat pada korteks dan epidermis. Dengan rusaknya jaringan tersebut akan menyebabkan kemampuan fotosintesis menjadi hilang.

2.5.    Struktur Jaringan Batang Tumbuhan Dikotil

Seperti halnya akar, batang juga tersusun atas berbagai jaringan, yaitu jaringan epidermis, jaringan dasar, dan jaringan pembuluh. Jaringan dasar tersusun oleh korteks, sedangkan jaringan pembuluh terdapat berkas vaskuler yaitu xilem dan floem. Cermati bagian-bagian batang tumbuhan dikotil secara lebih detail pada Gambar 1. Karena itu, batang memiliki beragam fungsi bagi tumbuhan. Namun, berbagai lapisan ini juga mempunyai beragam ciri khas. 

Jaringan epidermis pada batang memiliki ciri yang sama seperti jaringan epidermis pada akar. Misalnya, sel yang tipis dan tersusun rapat serta berkutikula pada akar dan batang. Selain itu, batang memiliki kemampuan tumbuh, baik secara sekunder maupun primer. Pertumbuhan sekunder batang terjadi pada jaringan epidermis. Sedangkan pertumbuhan primer terjadi pada tunas terminal (ujung batang) tepatnya pada meristem apikal. Fungsi jaringan epidermis pada batang juga sama dengan jaringan epidermis pada akar yaitu melindungi jaringan yang ada di dalamnya. Epidermis batang ini juga dapat pecah. Pecahnya epidermis batang mengakibatkan jaringan kambium gabus (folagen) terisi dengan gabus. Bagian ini disebut lenti sel. Fungsi lenti sel adalah sebagai tempat pertukaran gas dan penguapan (transpirasi).



Lapisan penyusun batang selanjutnya adalah jaringan dasar. Di dalam jaringan ini terdapat korteks. Korteks pada batang meliputi dua macam jaringan, yakni jaringan korteks luar dan korteks dalam. Sel kolenkim dan sel parenkim adalah penyusun korteks luar. Korteks dalam hanya disusun dari sel-sel parenkim saja. Korteks dalam (endodermis) dimiliki oleh semua tumbuhan. Namun sebaliknya, tidak semua tumbuhan memiliki korteks luar. Ada satu ciri khas yang dimiliki tumbuhan biji terbuka terkait lapisan korteks. Pada korteksnya terdapat seludang pati (sarung tepung) yaitu lapisan yang berisi pati.
Setelah korteks, tubuh tumbuhan tersusun oleh jaringan pembuluh. Di dalam jaringan pembuluh terdapat stele atau silinder pusat. Pada tumbuhan dikotil, stele terletak di sebelah dalam korteks atau sebelah dalam endodermis. Sementara, lapisan terluarnya disebut perisikel atau perikambium. Di sebelah dalam korteks terdapat empulur dan berkas pengangkut. Pada berkas pengangkutan ini terdapat xilem dan floem. Sementara, di tengah stele terdapat empulur. Empulur juga ada di antara xilem dan floem. Bentuknya seperti jari-jari, disebut jari empulur. Selain itu, di antara xilem dan floem juga terdapat kambium.
Oleh karena itu, berkas pengangkutannya disebut berkas kolateral terbuka. Kambium memiliki dua bagian, yakni kambium vaskuler dan kambium intravaskuler. Bagian kambium yang berada di antara xilem dan floem berasal dari prokambium disebut kambium vaskuler. Sedangkan kambium di luar xilem dan floem yang berasal dari sel-sel parenkim disebut kambium intravaskuler. Adapun ringkasan letak dan fungsi tiap-tiap jaringan penyusun batang Dikotil dapat teman teman lihat dalam Tabel 1. Berikut :
Tabel 1. Jaringan-Jaringan Penyusun Batang Dikotil Beserta Letak dan Fungsinya


2.6.  Struktur Jaringan Batang Tumbuhan Monokotil
Seperti halnya tumbuhan dikotil, struktur batang tumbuhan monokotil tersusun atas jaringan epidermis, jaringan dasar, dan jaringan pengangkut atau berkas pembuluh. Agar mengetahui bagian bagian batang tumbuhan monokotil, simak Gambar 1. Bedanya, tumbuhan dikotil memiliki bentuk meristem apikal yang kecil. Meristem inilah yang akan membentuk tunas ketiak daun, bakal daun, dan epidermis.


Gambar1.kiri. adalah penampang jaringan batang monokotil. kanan dikotil

Pada tumbuhan monokotil juga terdapat meristem perifer. Meristem perifer merupakan bagian meristem yang berkembang menjadi batang berisi xilem dan fl oem. Lapisan epidermis batang tumbuhan dikotil memiliki dinding sel yang lebih tebal dibandingkan tumbuhan dikotil. Pada lapisan epidermisnya terdapat stomata dan buku-buku. Di bawah epidermis terdapat korteks. Korteks tersusun dari sel-sel sklerenkim. Korteks tumbuhan monokotil, korteks merupakan kulit batang. Kulit batang berfungsi mengeraskan bagian luar batang.
Setelah korteks, lapisan berikutnya ialah stele. Tumbuhan monokotil memiliki batas korteks dan stele yang tidak jelas. Di dalam stelenya terdapat berkas pengangkutan. Berkas pengangkutan tersebut tersebar pada empulur dan letaknya berdekatan dengan kulit batang. Sarung sklerenkim mengelilingi seluruh berkas pengangkut. Tipe berkas pengangkutannya dinamakan kolateral tertutup, sebab di antara xilem dan fl oemnya tidak ditemui kambium. Akibatnya, tumbuhan monokotil tidak bisa tumbuh secara sekunder. Alias tubuhnya tidak membesar dan hanya memanjang. Adapun ringkasan letak dan fungsi tiap-tiap jaringan penyusun batang Monokotil dapat teman teman lihat dalam Tabel 1. Berikut

Tabel 1. Jaringan-Jaringan Penyusun Batang Monokotil Beserta Letak dan Fungsinya



 2.7.  Pertumbuhan Primer
Meristem apikal dari suatu tunas adalah suatu massa sel yang berbentuk kubah yang membelah pada ujung tunas terminal. Daun uncul sebagai bakal daun pada sisi yang mengapit meristem apikal. Tunas aksiler akan berkembang dari kumpulan sel meristematik yang ditingalkan oleh meristem apikal pada pangkal empelur bakal dari daun. Sebagian besar pemanjangan tunas sesungguhnya terjadi melalui pertumbuhan ruas yang sedikit lebih tua di bawah ujung ruas tersebut. Pertumbuhan ini disebabkan oleh pembelahan sel dan pemanjangan sel di dalam ruas tersebut. Pada beberapapa tumbuhan, termasuk rumput-rumputan, ruas terus memanjang sepanjang panjang tunas tersebut selama periode yang lama. Hal ini dimungkinkan karena tumbuhan tersebut memiliki daerah meristematik, yang disebut meristem interkalari, pada pamgkal masing-masing ruas.
Pada beberapa spesies tumbuhan, pembentukan tunas lateral tidak terjadi sebelum daun lebih tua. Bakal tunas dapat juga terjadi di tempat lain dan disebut tunas tambahan atau tunas adventif. Pembentukannya adalah dengan cara diferensiasi sel yang bersifat parenkim. Kebanyakan tunas tambahan dibentuk secara eksogen, artinya dari jaringan di dekat permukaan. Tunas aksiler bisa saja membentuk cabang dari sistem tunas pada suatu saat nanti. Cabang sistem tunas berasal dari tunas aksiler, yang berlokasi pada permukaan suatu tunas utama. Jaringan pembuluh dari suatu batang berada dekat dengan permukaan, dan cabang-cabang dapat berkembang dengan adanya sambungan ke jaringan pembuluh tanpa harus berasal dari bagian paling dalam di dalam tunas utama. Perkembangan buku dan ruas di dalam ujung tunas, yang dimiliki suatu konstruksi moduler suatu rentetan segmen, yang masing-masing terdiri dari sebuah batang, satu atau lebih daun dan suatu tunas aksiler yang berkait dengan masing-masing daun. Pada kenyataanya, meristem apikal dapat berubah dari satu fase perkembangan ke satu perkembangan yang lain selama sejarahnya. Salah satu peruabahan fase dalam pertumbuhan vegetatif (memnghasilakan daun) ini adalah dari keadaan juvenil ke keadaan dewasa (terlihat pada perubahan morfologi daun). Pada beberapa kasus ujung tunas mengalami suatu perubahan kedua, yaitu dari keadaan vegetatif dewasa ke keadaan reprodukti (pembentukan bunga).

2.8.  Pertumbuhan Sekunder
Penambahan tinggi yang dicapai oleh pertumbuhan di meristem apeks sering disertai penambahan tabal batang. Penebalan itu disebabkan oleh pertumbuhan sekunder akibat aktivitas kambium pembuluh yang menambah jumlah jaringan pembuluh. Pertumbuhan sekunder terutama terjadi pada suatu batang utama dan cabangnya serta kadang-kadang tampak pula pada daun, tertutama pada tangkai daun dan ibu tulang daun. Beberapa tunbuhan dikotil basah dan kebanyakan monokotil tidak memiliki pertumbuhan sekunder.
Sebaian besar tumbuhan pembuluh mengalami pertumbuhan sekunder, yang meningkatkan diameter dan panjangnya. Tubuh sekunder tumbuhan terdiri dari jaringan yang dihasilkan selama pertumbuhan sekunder diameter. Dua meriatem lateral yang berfungsi dari pertumbuhan sekunder yaitu: kambium pembuluh yang menghasilkan xilem sekunder (kayu) dan floem, serta kambium gabus, yang menghasilkan suatu penutup keras dan tebal yang mengantikan epidermis pada batang dan akar. Pertumbuhan sekunder terjadi pada semua gimnosperma. Pada angiosperma, pertumbuhan pada sekunder berlangsung pada sebagin besar spesies dikotil tetapi jarang spesies monokotil.
Kambium pembuluh adalah satu suatu silinder yang tersusun dari sel-sel meristematik yang membentuk jaringan pembuluh sekunder. Akumulasi  jarinagn pembuluh sekunder ini selama bertahun-tahun, bertanggung jawab atas sebagin besar pertambahan diameter tumbuhan berkayu. Kambium pembuluh menghasilkan xilem sekunder ke arah dalam dan floem sekunder ke arah luar. Sejalan dengan waktu, diameter pohon bertambah besar seiring dengan bertambah meningkatnya diameter silinder kambium pembuluh, yang membentuk lapisan jaringan sekunder secara suksesif, dengan diameter yang lebih besar dibanding diameter sebelumnya.
Dalam tumbuhan dikotil semusim yang kecil dan sebagin besar tumbuhan monokotil, semua sel dalam tubuh tumbuhan dihasilkan oleh meristem-meristem ujung, dan karen itu tumbuhan tersebut menyelesaikan seluruh daur hidupnya dengan pertumbuhan primer. Tetapi dalam sebagin besar dikotil, terutama tumbuhan berkayu menahun yang dari tahun ke tahun terus tumbuh, tubuh primer tubuhan ditambah denagan pembentukan jarinagn sekunder yang menambah ketebalan sumbu tumbuhan.
Pertumbuhan primer dan pertumbuhan sekunder terjadi secara bersama pada bagian batang yang berbeda-beda. Pada saat meristem apikal memanjangkan batang dengan cara memnghasilakan jaringan primer, termasuk xilem dan floem primer dalam bentuk berkas pembuluh, pertumbuhan sekunder mulai semakin jauh di bawah tunas. Pertambahan jaringan pembuluh sekunder mengubah bentuk bagian yang lebih tua pada suatu batang.
Setelah meristem apikal memanjangkan suatu tunas, tubuh primer tumbuhan tunas muda membuat perubahan dari pertumbuhan primer ke pertunbuhna sekunder dengan membentuk kambium pembuluh dari sel-sel parenkima yang mampu merubah sel-sel itu menjadi meristematik kembali. Meristem ini terbentuk dalam suatu lapisan antara xilem primer dan floem primer dari masing-masing berkas pembuluh dan dalam lempemgan jaringan dasar di antara berkas. Pita-pita meristematik di dalam berkas dan lempengan pembuluh menyatu membentuk kambium pembuluh sebagai suatu silinder kontinu yang tersusun dari sel-sel yang membelah  di sekitar xilem primer dan empelur batang. Lempengan jaringan xilem dan floem, yang sebagian besar terdiri dari paremkim, berfungsi sebagai sarana sistem transpor radial air dan nutrien di dalam suatu batang berkayu, serta untuk menyimpan pati dan cadangan makanan lainnya. Sementara pertumbuhan sekunder barjalan terus-menerus selama bertahun-tahun, lapisan demi lapisan xilem sekunder akan terakumulasi membentuk kayu. Kayu sebagian besar terdiri dari trakeid, unusur pembuluh (pada angiosperma), dan serat. Sel-sel ini, mati pada kematangan fungsional dan memiliki dinding tebal berlignin yang memberi kekerasan dan kekutan pada kayu.
















BAB III
PENUTUP
3.1.  Kesimpulan
Batang pada suatu tumbuhan mempunyai ciri-ciri: berbentuk panjang silinder; terdiri atas ruas yang dibatasi oleh buku dan terdapat daun; umumnya tumbuh ke atas;  bertambah panjang di ujungnya; terdapat percabangan; tidak berwarna hijau.
Dalam bentuk itu tugas utamanya adalah mendukung bagian-bagian tumbuhan; mengangkut air dan zat-zat makanan; penyimpan cadangan makanan dan sebagai alat perkembang biakan serta memperluas bidang asimilasi. Pertumbuhan batang meliputi pertumbuhan primer dan pertumbuhan sekunder. Pertumbuhan primer terjadi pada  ujung tunas dan akar tumbuhan serta mengakibatkan tumbuhan bertambah tinggi, sedangkan pertumbuhan sekunder terjadi pada bagian akar dan tunas yang agak tua dan jauh dari ujung, pertumbuhan sekunder menaibatkan batang bertanbah besar, dimana hanya tumbuhan dikotil berkayu dan sebagian tumbuhan monokotil dapat mengalami pertumbuhan sekunder.

3.2.  Saran
Pada umumnya batang terdiri dari buku-buku, ruas-ruas, tunas terminal dan tunas aksilar. Batang suatu tumbuhan ada yang bercabang ada yang tidak bercabang. Cara percabangan dibedakan menjadi tiga macam yaitu; monopodial, simpodial dan dikotom. Batang suatu tumbuhan dapat mengalami suatu modifikasi menjadi bentuk yang bermacam-macam diantaranya; rimpang, umbi lapis, umbi batang, duri, cabang pembelit dan geragih. Adanya tunas terminal dan tunas aksilar menentukan percabangan, bahkan keseluruhan arsitektur tumbuhan. Beberapa model yang dikenal antra lain: Pada pohon tak bercabang;Model Holtum, Model Corner. Pada pohon bercabang; Model Tomlinson, Model Camberlain, Model Leeuwenberg, Model Koriba, Model Aubreville, Model Rauh, Model Massart, Model Raux, Model Champagnat dan Model Troll.

DAFTAR PUSTAKA

Hidajat, Estiti B. Morfologi Tumbuhan.
Hidajat, Estiti B. 1995. Morfologi Tumbuhan Berbiji. Bandung: ITB
Loveless.A.R. 1991. Prinsip-Prinsip Biologi Tumbuhan Untuk Daerah Tropik I.Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama
Reece, Campbell. 1999. Biologi Jilid 2. Jakarta: Erlangga
Tjitrosoepomo, Gembong. 1985. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
The Gau’ 2011 : www.muhsakirmsg.blogspot.com /morfologi tumbuhan/



6 komentar:

Silahkan Tinggalkan Komentar Untuk Perbaikan Postingan Selanjutnya !

Facebook Twitter Fans Page
Gratis Berlangganan artikel B-digg via mail, join sekarang!