Rabu, 15 Mei 2013

Pengertian Kontipasi

Definisi kontipasi bersifat relatif, tergantung pada konsistensi tinja, frekuensi buang air besar dan kesulitan keluarnya tinja. Pada anak normal yang hanya berak setiap 2-3 hari dengan tinja yang lunak tanpa kesulitan, bukan disebut konstipasi. Konstipasi adalah persepsi gangguan buang air besar berupa berkurangnya frekuensi buang air besar, sensasi tidak puasnya buang air besar, terdapat rasa sakit, harus mengejan atau feses keras.
Konstipasi berarti bahwa perjalanan tinja melalui kolon dan rektum mengalami penghambatan dan biasanya disertai kesulitan defekasi (sujono).Disebut konstipasi bila tinja yang keluar jumlahnya hanya sedikit, keras, kering, dan gerakan usus hanya terjadi kurang dari 3 x dalam 1 mnggu.8,9,10
Kriteria baku untuk menentukan ada tidaknya konstipasi telah ditetapkan, meliputi minimal 2 keluhan dari beberapa keluhan berikut yang diderita penderita minimal 25 % selama minimal 3 bulan : (1) tinja yang keras, (2) mengejan pada saat defekasi, (3) perasaan kurang puas setelah defekasi, dan (4) defekasi hanya 2 x atau kurang dalam seminggu.
Pada tahun 1999 Komite Konsensus Internasional telah membuat suatu pedoman untuk membuat diagnosis konstipasi. Diagnosis dibuat berdasar adanya keluhan paling sedikit 2 dari beberapa keluhan berikut, minimal dalam waktu 1 tahun tanpa pemakaian laksans (kriteria Roma II), yaitu (Whitehead 1999) :
(1) defekasi kurang dari 3x/minggu,
(2) mengejan berlebihan minimal 25 % selama defekasi,
(3) perasaan tidak puas berdefekasi minimal 25 % selama defekasi,
(4) tinja yang keras minmal 25 %,
(5) perasaan defekasi yang terhalang, dan
(6) penggunaan jari untuk usaha evakuasi tinja.

Penyebab konstipasi biasanya multifaktor, misalnya : Konstipasi sekunder (diit, kelainan anatomi, kelainan endokrin dan metabolik, kelainan syaraf, penyakit jaringan ikat, obat, dan gangguan psikologi), konstipasi fungsional (konstipasi biasa, “Irritabel bowel syndrome”, konstipasi dengan dilatasi kolon, konstipasi tanpa dilatasi kolon , obstruksi intestinal kronik, “rectal outlet obstruction”, daerah pelvis yang lemah, dan “ineffective straining”), dan lain-lain (diabetes melitus, hiperparatiroid, hipotiroid, keracunan timah, neuropati, Parkinson, dan skleroderma).
 Konstipasi sekunder
1.    Pola hidup :Diet rendah serat, kurang minum, kebiasaan buang air besar yang buruk, kurang olah raga.
2.    Kelainan anatomi (struktur) : fissura ani, hemoroid, striktur, dan tumor, abses perineum, megakolon.
3.    Kelainan endokrin dan metaolik : hiperkalsemia, hipokalemia, hipotiroid, DM, dan kehamilan.
4.    Kelainan syaraf : stroke, penyakit Hirschprung, Parkinson, sclerosis multiple, lesi sumsum tulang belakang, penyakit Chagas, disotonomia familier.
5.    Kelainan jaringan ikat : skleroderma, amiloidosis, “mixed connective-tissue disease”.
6.    Obat : antidepresan (antidepresan siklik, inhibitor MAO), logam (besi, bismuth), anti kholinergik, opioid (kodein, morfin), antasida (aluminium, senyawa kalsium), “calcium channel blockers” (verapamil), OAINS (ibuprofen, diclofenac), simpatomimetik (pseudoephidrine), cholestyramine dan laksan stimulans jangka panjang.
7.    Gangguan psikologi (depresi).

Konstipasi fungsional=kontipasi simple atau temporer
1.    Konstipasi biasa : akibat menahan keinginan defekasi.
2.    “Irritabel bowel syndrome”
3.    Konstipasi dengan dilatasi kolon : “idiopathic megacolon or megarektum”
4.    Konstipasi tanpa dilatasi kolon : “idiopathic slow transit constipation”
5.    Obstruksi intestinal kronik.
6.    “Rectal outlet obstruction” : anismus, tukak rectal soliter, intusesepsi.
7.    Daerah pelvis yang lemah : “descending perineum”, rectocele.
8.    Mengejan yang kurang efektif (“ineffective straining”)

Penyebab lain
1.    Diabetes mellitus
2.    Hiperparatiroid
3.    Hipotiroid
4.    Keracunan timah (“lead poisoning”)
5.    Neuropati
6.    Penyakit Parkinson
7.    Skleroderma
8.    Idiopatik  :Transit kolon yang lambat, pseudo-obstruksi kronik.

Pengertian Obstipasi
Obstipasi berasal dari bahasa Latin Ob berarti in the way = perjalanan dan Stipare yang berarti to compress = menekan . Secara istilah obstipasi adalah bentuk konstipasi parah dimana biasanya disebabkan oleh terhalangnya pergerakan feses dalam usus (adanya obstruksi usus).
Secara umum, Obstipasi adalah pengeluaran mekonium tidak terjadi pada 24 jam pertama sesudah kelahiran atau kesulitan atau keterlambatan pada faeces yang menyangkut konsistensi faeces dan frekuensi berhajat. Sedangkan pada neonatus lanjut didefinisikan sebagai tidak adanya pengeluaran feses selama 3 hari/lebih.
Ada beberapa variasi pada kebiasaan buang air besar yang normal. Lebih dari 90% bayi baru lahir akan mengeluarkan mekonium dalam 24 jam pertama, sedangkan sisanya akan mengeluarkan mekonium dalam 36 jam pertama kelahiran. Jika hal ini tidah terjadi, maka harus dipikirkan adanya obstipasi. Akan tetapi, harus diingat bahwa ketidakteraturan defekasi bukanlah suatu obstipasi karena pada bayi yang menyusu dapat terjadi keadaan tanpa defekasi selama 5-7 hari dan tidak menunjukkan adanya gangguan feses karena feses akan dikeluarkan dalam jumlah yang banyak sewaktu defekasi. Hal ini masih dikatakan normal.
Jenis-jenis obstipasi
Obstipasi ada 2 macam :
a.          Obstipasi  Total
Memiliki ciri khas tidak keluarnya feses atau atau flatus dan pada pemeriksaan colok dubur didapat rectum yang kosong, kecuali jika obstruksi terdapat pada rectum.
b.         Obstipasi  Parsial
Memiliki ciri pasien tidak dapat buang air besar selama beberapa hari, tetapi kemudian dapat mengeluarkan feses disertai gas. Keadaan obstruksi parsial kurang darurat daripada obstruksi total.

Hematemesis
Hematemesis adalah muntah darah dan melena adalah pengeluaran feses atau tinja yang berwarna hitam seperti teh yang disebabkan oleh adanya perdarahan saluran makan bagian atas.
Warna hematemesis tergantung pada lamanya hubungan atau kontak antara darah dengan asam lambung dan besar kecilnya perdarahan, sehingga dapat berwarna seperti kopi atau kemerah-merahan dan bergumpal-gumpal. (Sjaifoellah Noer, dkk, 1996).

Melena
Hematemesis melena adalah muntah darah dan melena adalah pengeluaran faeses atau tinja yang berwarna hitam seperti ter yang disebabkan oleh adanya perdarahan saluran makan bagian atas. Warna hematemesis tergantung pada lamanya hubungan atau kontak antara drah dengan asam lambung dan besar kecilnya perdarahan, sehingga dapat berwarna seperti kopi atau kemerah-merahan dan bergumpal-gumpal.
Biasanya terjadi hematemesis bila ada perdarahan di daerah proksimal jejunun dan melena dapat terjadi tersendiri atau bersama-sama dengan hematemesis. Paling sedikit terjadi perdarahan sebanyak 50-100 ml, baru dijumpai keadaan melena. Banyaknya darah yang keluar selama hematemesis atau melena sulit dipakai sebagai patokan untuk menduga besar kecilnya perdarahan saluran makan bagian atas. Hematemesis dan melena merupakan suatu keadaan yang gawat dan memerlukan perawatan segera di rumah sakit.
Penyebab perdarahan saluran makan bagian atas
Kelainan esofagus: varise, esofagitis, keganasan.
Kelainan lambung dan duodenum: tukak lambung dan duodenum, keganasan dan lain-lain.
Penyakit darah: leukemia, DIC (disseminated intravascular coagulation), purpura trombositopenia dan lain-lain.
Tifus  abdominalis
Demam Tifoid atau tifus abdominalis adalah suatu infeksi yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhii yang ditularkan melalui makanan yang tercemar oleh tinja dan urine penderita.
Penyebab
Bakteri Salmonella typhii
Gambaran klinik
·           Gambaran klinis bervariasi dari sangat ringan sampai berat dengan komplikasi yang sangat berbahaya.
·           Biasanya gejala mulai timbul secara bertahap dalam wakatu 8 – 14 hari setelah terinfeksi.
·           Gejalanya bisa berupa demam intermitten (pagi lebih rendah dibanding sore hari), sakit kepala, nyeri sendi, sakit tenggorokan, bibir kering dan pecah,
lidah kotor tertutup oleh selaput putih, sembelit, penurunan nafsu makan dan nyeri perut.
·           Kadang penderita merasakan nyeri ketika berkemih dan terjadi batuk serta
perdarahan dari hidung.
·           Jika pengobatan tidak dimulai maka suhu tubuh secara perlahan akan meningkat dalam waktu 2 – 3 hari, yaitu mencapai 39,4 – 40°C selama 10 – 14 hari.
Panas mulai turun secara bertahap pada akhir minggu ke-3 dan kembali normal pada minggu ke-4.
·           Demam seringkali disertai oleh denyut jantung yang lambat dan kelelahan yang luar biasa.
·           Pada kasus yang berat bisa terjadi delirium, stupor atau koma.
·           Pada sekitar 10% penderita timbul sekelompok bintik-bintik kecil berwarnamerah muda di dada dan perut pada minggu kedua dan berlangsung selama 2 – 5 hari.
·           Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejala dan hasil pemeriksaan fisik.
·           Untuk memperkuat diagnosis, dilakukan biakan darah, tinja, air kemih atau
jaringan tubuh lainnya guna menemukan bakteri penyebabnya.

Anuria
Anuria arti sesungguhnya adalah suatu keadaan dimana tidak ada produksi urine dari seorang penderita. Dalam pemakaian klinis diartikan keadaan dimana produksi urine dalam 24 jam kurang dari 100 ml. Keadaan ini menggambarkan gangguan fungsi ginjal yang cukup berat dan hal ini dapat terjadi secara pelan-pelan atau yang datang secara mendadak.
Yang datang pelan-pelan umumnya menyertai gangguan ginjal kronik dan biasanya menunjukkan gangguan yang sudah lanjut. Yang timbul mendadak sebagian besar disebabkan gagal ginjal akut, yang secara klinis dipakai bersama-sama dengan keadaan yang disebut oliguria, yaitu keadaan dimana produksi urine dalam 24 jam antara 100 — 400 ml.
Hyperkalemia
Hyperkalemia adalah umum; ia didiagnosa pada sampai 8% dari pasien-pasien rawat inap di Amerika. Untungnya, kebanyakan pasien-pasien mempunyai hyperkalemia yang ringan (yang biasanya ditolerir dengan baik). Bagaimanapun, segala kondisi yang menyebabkan bahkan hyperkalemia yang ringan harus dirawat untuk mencegah kemajuan kedalam hyperkalemia yang lebih berat. Tingkat-tingkat potassium yang tingginya sangat ekstrim dalam darah (hyperkalemia yang parah) dapat menjurus pada berhentinya jantung (cardiac arrest) dan kematian. Jika tidak dikenali dan dirawat secara benar, hyperkalemia yang parah berakibat pada angka kematian kira-kira 67%.
Secara teknis, hyperkalemia berarti tingkat potassium dalam darah yang naiknya secara abnormal. Tingkat potassium dalam darah yang normal adalah 3.5-5.0 milliequivalents per liter (mEq/L). Tingkat-tingkat potassium antara 5.1 mEq/L sampai 6.0 mEq/L mencerminkan hyperkalemia yang ringan. Tingkat-tingkat potassium dari 6.1 mEq/L sampai 7.0 mEq/L adalah hyperkalemia yang sedang, dan tingkat-tingkat potassium diatas 7 mEq/L adalah hyperkalemia yang berat/parah.Bagaimana Hyperkalemia Mempengaruhi Tubuh ?
Potassium adalah kritis untuk berfungsinya normal otot-otot, jantung, dan syaraf-syaraf. Ia memainkan peran yang penting dalam mengontrol aktivitas dari otot halus (seperti otot yang ditemukan di saluran pencernaan) dan otot kerangka (otot-otot dari anggota-anggota tubuh dan torso), serta otot-otot jantung. Ia juga adalah penting untuk transmisi (pengantaran) sinyal-sinyal listrik keseluruh sistim syaraf didalam tubuh.
Tingkat-tingkat darah yang normal dari potassium adalah kritis untuk memelihara irama listrik jantung yang normal. Keduanya tingkat-tingkat potassium yang rendah (hypokalemia) dan tingkat-tingkat potassium darah yang tinggi (hyperkalemia) dapat menjurus pada irama-irama jantung yang abnormal.
Efek klinis yang paling penting dari hyperkalemia berhubungan dengan irama listrik jantung. Semetara hyperkalemia yang ringan kemungkinan mempunyai efek yang terbatas pada jantung, hyperkalemia yang sedang dapat menghasilkan perubahan-perubahan EKG (EKG adalah bacaan listrik dari otot-otot jantung), dan hyperkalemia yang berat/parah dapat menyebabkan penekanan dari aktivitas listrik jantung dan dapat menyebabkan jantung untuk berhenti berdenyut.

Sumber :
·         the gau’ 2011 ; pengertian kontipasi/html ; http://muhsakirmsg.blogspot.com.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Tinggalkan Komentar Untuk Perbaikan Postingan Selanjutnya !

Facebook Twitter Fans Page
Gratis Berlangganan artikel B-digg via mail, join sekarang!